Surabaya, pedulirakyat.id
Dr. Sunu Catur Budiyono, Dosen serta Kepala Perencanaan dan Pengembangan Institusi UNIPA Surabaya, mengutarakan bahwa kebutuhan akan internet digunakan sebagai sumber, media dan untuk belajar bagi peserta didik. Hal ini sebuah keniscayaan. Namun di negara Swedia dan Finlandia sudah kembali pada buku.
“Faktor pragmatis yang mendorong ketergantungan pada internet. Semuanya ditanyakan ke internet. Dan jawabannya lebih logis dan praktis.
“Misal, ingin mengetahui nama pohon. Pohon tersebut difoto dan diunggah. Kemudian langsung dijawab dengan cepat nama pohon tersebut,” ujar dosen sastra ini disela-sela kesibukan mengajar.
Lebih lanjut pria asal Tulungagung ini berpendapat bahwa harus ada kebijakkan negara untuk hal ini. Sebab era sekarang masih demam menggunakan internet.
Di tempat terpisah, Dr. Sholihin Fanani, Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, menjelaskan seyogyanya ada rambu-rambu dalam penggunaan internet. Apa rambu-rambunya?Adalah moral agama. Dengan adanya rambu-rambu, siswa akan bisa memilah yang boleh dan yang tidak boleh dalam menggunakan internet
“Pengawasannya ialah dari guru, orang tua murid dan masyarakat. Dengan kolaboratif kegiatan-kegiatan yang positif, penggunaan internet bisa dikurangi. Seperti komba-lomba di sekolah dan kegiatan yang bermanfaat,” tambah Sholihin Fanani
Kemajuan jaman seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Cepat seperti kilat meninggalkan busur yang berada ditempat.
Namun semua itu akan bermanfaat bila dipakai untuk kemaslahatan umat
Poedianto


