Blended Learning

admin
admin September 2, 2025
Updated 2025/09/02 at 10:37 AM

Surabaya, pedulirakyat.id

Rangga Galung Rihardika, S. Tr. Par, Wakil Kepala SMK Satya Widya Surabaya, berpendapat bahwa pengaruh gedget yang membuat siswa kurang perhatian terhadap pelajaran.

“Yang terjadi adalah ketergantungan pada gedget. Main tiktok, game dan lainnya. Ini adalah fenomena brain rot. Solusinya harus diterapkan Blended Learning,” katanya. Metode ini mengeterapkan pembelajaran 50 persen tatap muka di kelas dan 50 persen daring.

Di tempat lain Falah Widodo, S. Th. I, Guru Pendidikan Agama Islam di SDN Mojo 3 Surabaya, mengatakan bahwa metode mengajar dengan ceramah sudah tidak diminati siswa.

“Pembelajaran harus dengan metode aktif. Seperti diskusi, problem solving. Dengan ini siswa terlibat aktif,” terang Falah Widodo.

Sementara Dr. Edi Dwi Riyanto, Koordinator Program Studi Magister Kajian Sastra dan Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Unair Surabaya, mengutarakan bahwa cara mengatasinya dengan pembelajaran kebermaknaan.

“Artinya pelajaran tersebut harus bermakna. Misal tentang pelajaran ekonomi, guru harus bisa menyambungkan dengan keadaan ekonomi sehari-hari. Ini pembelajaran deep learning,” papar Pak Edi, panggilan akrabnya.

Sesungguhnya menurut Pak Edi, yang dari dikdasmen sudah bagus. Mindful (penuh kesadaran), meaningful (kebermaknaan) dan joyful (kegembiraan).

Poedianto

Share this Article
Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *