Drs. Ec. Margiono, MM.
Surabaya, pedulirakyat.id
“Memilih jurusan pada pendidikan harus sesuai dengan bakat. Tetapi bakat itu juga harus dilatih di sekolah,” kata Drs. Ec. Margiono, MM, Guru Senior Surabaya. Dari fase ke fase pengajaran selalu diikuti menurut ketentuan yang ada. Belajar di kelas, guru sebagai pengajar memberikan materi kepada anak didiknya (teacher center). Kemudian peserta didik mempraktikkan materi ajar yang sudah diterima (student center). Lalu kembali pada fase guru menilai hasil yang sudah dikerjakan oleh siswa (teacher center). Dr. Wahidin Sudirohusodo, tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia ini mengatakan bahwa semua bentuk proses pembelajaran seyogyanya dijalankan dengan kerja keras dan kejujuran. Baik dalam fase pengajaran, pengujian, penilaian. Semua harus bertumpu pada hasil murni. Apabila tidak demikian, maka akan kesulitan dalam mapping kualitas pendidikan. Oleh karenanya setiap jenjang pendidikan mengadakan bentuk-bentuk ujian. Ada UTS, SAS dan lainnya. Masuk perguruan tinggi, masuk ASN, masuk TNI, masuk Polisi, juga ada ujian tersendiri.
Dalam cerita Maha Barata, murid-murid Pandita Dorna di Perguruan Soka Lima, yaitu Kurawa dan Pandawa juga menjalani ujian yang sangat berat. Ilmu pemerintahan, ilmu kesusasteraan, ilmu perang, ilmu mental spiritual dan lainnya.
J. Frost, pemikir pendidikan, berpendapat bahwa semua metode pembelajaran harus dijalankan dengan suasana gembira. Materi ajar akan mudah dicerna oleh siswa.
Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam buku Revolusi Cara Belajar (The Learnning Revolution) menekankan cara belajar yang efektif. Yaitu pembelajaran yang sesuai dengan minat bakat individu. Dus dengan demikian, semua bentuk pembelajaran dan semua bentuk ujian, esensinya adalah untuk mencerdaskan anak-anak bangsa.
Poedianto


