Oleh : Poedianto
Tak semudah yang dibayangkan orang untuk menjadi seorang sinden. Dibutuhkan ketelatenan, keluwesan, wira swara dan tentunya harus menguasai gending. Gending alit, gending nengah dan gending gedhe. Namun dalam perkembangannya, seiring interaksi budaya dan selera masyarakat, profesi sinden harus bisa melantunkan lagu berirama langgam, keroncong, campursari, bahkan lagu-lagu berirama dangdut, pop, seyogyanya juga bisa dikuasai.
Tidak kalah pentingnya sikap perilaku dalam membawa diri di tengah-tengah masyarakat. Kesemuanya ini akan menentukan dalam mengemban nama baik sinden.
Sinden seyogyanya bisa mengikuti iringan gending dalam pedalangan. Ketika jejer pertama yaitu Gending Soren (sore), Patet Sanga (tengah malam), serta Patet Manyuro (menjelang subuh).
Waktu goro-goro (Semar, Gareng, Petruk, Bagong), banyak permintaan dari penonton untuk meminta dilantunkannya lagu-lagu campursari, langgam dan segala lagu kekinian lainnya. Seorang sinden harus melayani permintaan penonton. Bila kesemuanya itu bisa dilayani dengan baik, maka sinden tersebut sudah bisa dikatakan sinden profesional. Kesemuanya itu akan membantu popularitas. Seperti Nyi Sanyem, Nyi Sunyahni, Nyi Tjodro Lukito, Nyi Suwarni dan yang lainnya.
Untuk bisa disebut sebagai sinden, harus menguasai gending klasik. Misalnya gending Semarangan, gending Rujak Sentul, gending Jangkuk Kuning dan gending-gending klasik lainnya.
Menjadi pengrawit seperti Yurnino Takenouchi, pengrawit dari Jepang memerlukan belajar dengan waktu lama. Sindenpun demikian. Sinden juga belajar akan lagu-lagu bernafaskan sejarah.
Gending bernafaskan sejarah itu membutuhkan waktu yang lama, telaten serta tekun dalam mempelajarinya.
Sinden pemula harus belajar gending madya. Misalnya : Ladrangan, Pangkur, Asmaradana, Ciblon, Jineman. Kemudian meningkat ke gending Gedhe, Gambir Sawit, Onang-Onang dan gending klasik lainnya.
Gending Langgam masa kini juga harus bisa dilantunkan, seperti Ngidam Sari, Bengawan Sore, Caping Gunung dan gending lainnya.
Suara Miring
Rupanya suara miring terhadap profesi sinden juga masih ada. Omongan miring bahkan benci terhadap sinden.
Sebenarnya suara miring terhadap sinden itu hanya anggapan saja. Karena tidak mengetahui seluk beluk profesi sinden.
Sinden Luar Negeri
Hiromi Kano dari Jepang, Megan O’Donoghue dari Amerika, bahkan bukan berasal dari Jawa, seperti Elisha Orcarus Allasso dari Sulawesi Tengah, ketiganya membutuhkan waktu yang lama belajar menjadi sinden.
@ Poedianto
Guru SMK Pariwisata Satya Widya, Surabaya.


